Wednesday, March 3, 2010

I Love Train

"I love train"......itu semboyan saya, cuma masalahnya di Jabodetabek ini keretanya kurang memuaskan. Saya baca di majalah Kereta Api kalau yang wara wiri di Jabodetabek itu kereta Jepang buatan 1968 (tahun ketika saya lahir) yang sudah dibuang dari induknya celakanya kitalah yang mau menampung sampahnya.

Memang setelah diservis kondisinya bisa dipakai dan melaju yang kata orang Jepang yang dulu pernah pakai bertepuk tangan karena bisa melihat nostalgia kereta mereka yang diadopsi di Indonesia. Namun masalahnya pengguna semakin banyak dan infrastruktur semakin digiatkan pada kabinet SBY sekarang, sebaiknya lebih mentereng dikit, masa seh kita gak mampu beli gerbong yang lebih layak, bukannya apa apa orang-orang yang sok kaya di Jakarta masih "sinis" kalau bilang kita naik kereta, bagi mereka lebih baik macet ria dengan mobil pribadi ketimbang naik kereta yang menurut mereka "kampungan" atau "ah kereta kan hanya untuk orang miskin! dan bau kambing".

Kalau diperhatikan kereta bikinan PT INKA Madiun lebih bagus cuma dibilang "mahal" loh gimana mau meningkatkan dan membangkitkan orang naik kereta kalau keretanya sebenarnya adalah kereta "buangan" yang kurang bikin menarik atau berganti menggunakan kereta.

Di Eropa yang saya lihat memang tidak semua kereta bagus, tapi masih terpelihara baik dan bersih, syukur deh kereta jabodetabek yang kelas ekspress/AC Ekonomi masih lumayan bersih tapi alangkah baiknya kalau gerbongnya ditingkatkan yang lebih modern dan sophisticated meskipun harga ticketnya sedkit lebih mahal asal nyaman, tepat waktu dan bermanfaat, paling tidak mengurangi kemacetan lalu lintas di Jakarta.

Tuesday, December 2, 2008

Perbedaan Karakteristik Antara Utara dan Selatan Italia

Secara administratif Italia dibagi menjadi 20 region (regione) dan pembagian region tersebut pada umumnya berdasarkan atas batas wilayah jaman sebelum unifikasi Italia seperti Tuscana, Lombardia, Veneto dan lain lain. Namun pada era berikutnya pembagian regione di Italia mulai diterapkan dengan membentuk regione-regione baru seperti Friuli-Venezia Giulia ataupun Molise. Saat ini, disamping secara resmi dibagi secara administratif, Italia juga mengalami pembagian karakteristik politik, ekonomi dan sosial yang tajam, yaitu antara Utara dan Selatan.



Kota Milano -- barometer Utara Italia
yang berpotensi ekonomi lebih maju



Italia dibagian Utara (Nord) ditinjau dari masyarakatnya dikenal sebagi masyarakat yang mempunyai industri lebih maju. Pada umumnya mereka berbahasa Italia tetapi memiliki ”logat” seperti Perancis dan Jerman dengan kota Milano sebagai barometer kota utamanya. Prospek ekonomi di Utara memang lebih menjanjikan dan dinamis. Perkembangan industri yang pesat selama lebih kurang 50 tahun menjadikan Italia menjadi salah satu tujuh dari negara yang makmur di dunia sedangkan di kawasan yang dijuluki sebagai daerah segitiga industri di Utara yang meliputi Torino, Milano dan Genova menjadi kawasan yang paling makmur di seluruh Italia.

Sebaliknya di Selatan (Meridionale) masyarakatnya cenderung kebalikannya. Secara harfiah daerah ini dikenal sebagai il mezzogiorno (tengah hari) -- istilah yang diperkenalkan oleh pemersatu Italia, Giuseppe Garibaldi setelah unifikasi Italia pada tahun 1861. Meskipun istilah ini cenderung mempunyai konotasi negatif seperti kemiskinan, buta huruf, kriminalitas yang kemudian menjadi stereotipe masyarakat Italia Selatan hingga kini. Wilayah ini antara lain meliputi selatan Regione Lazio (Roma) ke arah semenanjung Italia bagian selatan (Abruzzo, Campania, Basilicata, Molise, Calabria, Puglia) termasuk Pulau Silicia dan Sardegna (Sardinia). Kota Napoli menjadi sentral sebagai kota besar yang mewakili kondisi masyarakat Italia di Selatan. Dalam kehidupan sehari-harinya masyarakat di Selatan ini dikatakan sebagai salah satu kawasan yang terbelakang ekonominya di Eropa.

Kemunduran ekonomi di Selatan ini menurut sementara pihak dikarenakan kurangnya perhatian yang diberikan oleh Pemerintah Italia, mengingat daerah ini lebih banyak memunculkan permasalahan seperti masalah kejahatan terorganisasi (mafia) serta arah kebijakan pemerintah lebih melihat ke Utara sebagai lahan yang lebih subur untuk industri dan investasi. Beberapa kendala yang manjadi hambatan terhadap permasalahan di Italia Selatan antara lain disebabkan bahwa lahan pertanian di Selatan cenderung mempunyai landscape yang berbukit-bukit dan kurang subur (tandus); curah hujan yang tinggi pada musim hujan dan kering pada musim panas; masih banyak memanfaatkan sistem pertanian yang masih tradisional dan masih memanfaatkan tenaga binatang untuk pertanian dibandingkan dengan pemanfaatan mesin; kurangnya prasarana transportasi; minimnya sumber daya alam;
minimnya pemanfaatan dana, serta; terbatasnya dukungan skill yang memadai

Keadaan seperti ini menyebabkan banyak dari para petani di Selatan hidup dalam keadaan pas-pasan. Ironisnya dalam kenyataannya masyarakat Italia di Selatan banyak yang beremigrasi ke Utara untuk bekerja disektor sektor industri di daerah segitiga industri di Utara tersebut, negara-negara Eropa lainnya, bahkan hingga ke Amerika Utara dan Australia sejak tahun 1950an dan tahun 1960an.

Pembagian karakteristik antara Utara dan Selatan yang sama sekali bukan merupakan pembagian administratif ini sering menimbulkan beberapa persoalan. Secara diskrimintif orang-orang Utara sering menyebut orang Selatan dengan sebutan Terroni (orang Selatan). Bahkan Lega Nord, salah satu partai yang berhaluan Tengah-Kanan kubu dari Pemerintahan Berlusconi yang dikenal sangat rasis pernah menyerukan adanya gerakan kemerdekaan bagi Italia Utara dan mengkampanyekan anti-imigran yang berasal dari luar Italia.

Meskipun penanganan permasalahan yang terjadi di Selatan mulai dapat diperbaiki seperti gerakan reboisasi, pengaturan irigasi melalui pembangunan bendungan-bendungan, pembangunan autostrada (jalan tol) serta memperbaiki sarana pariwisata terutama wisata laut dan pantai untuk lebih memanfaatkan turis, namun jurang pemisah antara Utara dan Selatan Italia agaknya masih menjadi kendala hingga saat ini.

Pada tahun 1950, Pemerintah Italia pernah menerapkan kebijakan regional yang diberi nama Cassa per il Mezzogiorno (Cash for Il Mezzogiorno) dibentuk untuk meningkatkan standar hidup di Selatan. Terdapat 2 (dua) tujuan atas pembentukan ini yaitu menciptakan 120.000 lahan pertanian baru dan melalui program “Growth Pole Strategy” dimana 60% investasi pemerintah disalurkan ke Selatan dengan harapan untuk meningkatkan arus modal, meningkatkan perusahaan lokal dan menyediakan lapangan kerja, namun akibatnya kebijakan tersebut justru menyebabkan meningkatnya subsidi serta ketergantungan Italia Selatan kepada pusat serta tidak berhasilnya memacu pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut. (Gambar set: Kota Napoli yang semrawut)

Ditinjau dari keadaan historisnya, Italia Selatan Il Mezzogiorno sebenarnya merupakan wilayah yang makmur. Secara politik juga sangat berpengaruh dan pernah menjadi kawasan yang sejahtera, khususnya pada jaman kekuasaan Kerajaan Sicilia (sebelum Jaman Renaissance). Wilayah Selatan secara historis juga pernah menjadi koloni dari berbagai bangsa seperti Yunani, Romawi Kuno, Arab, Byzantium, Jerman, Normandia, Spanyol dan Austria pada masa sejarah sebelumnya.

Namun pelan-pelan kejayaan tersebut mulai meredup ketika pada tahun 1860 setelah unifikasi Italia oleh Garibaldi. Beberapa faktor yang melemahkan Italia Selatan menjadi mundur antara lain disebabkan hal-hal seperti : kurang pedulian pemerintah sejak unifikasi Italia khususnya terhadap pembangunan di Selatan, bencana alam yang diakibatkan oleh gempa bumi dan tanah longsor, meningkatnya kejahatan terorganisasi yang bersekongkol dengan politik elit setempat untuk memuluskan usahanya.

Dewasa ini, meskipun keadaan ekonomi di Italia dapat dikatakan sebagai negara maju, namun jurang pemisah kemakmuran antara kedua kawasan ini masih terus berlanjut. Italia Selatan masih menjadi kawasan yang kurang menjanjikan di Italia, bahkan di Eropa Barat sekalipun. Permasalahan masih sering menghimpit kawasan tersebut seperti korupsi, kriminalitas terorganisasi maupun tingkat pengangguran yang relatif tinggi. Secara demografis, kawasan Italia Selatan dapat diperinci sbb: dihuni oleh 37% dari total penduduk Italia, 40% dari total daratan di Italia, menyumbangkan hanya 24% dari GDP negara.

Selain itu sifat, watak dan faktor figur yang berbeda juga mewarnai perbedaan antara Utara dan Selatan Italia tersebut. Dari segi sifat dan watak, orang-orang Italia Utara lebih banyak dipengaruhi Ras Kaukasia (Eropa) yaitu cenderung lebih well-mannered, disiplin, sopan, namun dapat dikatakan lebih dingin, business-oriented dan berpikiran kedepan. Sementara orang-orang Italia Selatan kebalikannya, yaitu berwatak lebih keras, kasar, kurang disiplin, meskipun lebih hangat dan ramah. Sedangkan faktor figur, orang-orang Selatan cenderung lebih dipengaruhi oleh faktor ras dimana berdasarkan historisnya orang-orang Selatan lebih banyak dipengaruhi bangsa-bangsa Mediterrania yang pernah mendiami kawasan tersebut pada masa-masa sebelumnya.

Friday, November 21, 2008

Protes Mahasiswa Italia Akibat Reformasi Pendidikan Kabinet Berlusconi

Roma (ITALIA - ANSA) Unjuk rasa akibat disahkannya reformasi bidang pendidikan oleh Pemerintah Berlusconi beberapa minggu terakhir ini gencar dilakukan oleh para pelajar/mahasiswa-mahasiswa di seluruh kota-kota di Italia. Pada umumnya, pengunjuk rasa menuntut hak-haknya agar mendapatkan pendidikan yang lebih memadai.

Pemerintah Tengah-Kanan Italia berpendapat bahwa Pemerintah Berlusconi saat ini sedang mengupayakan penyetaraan dengan sistem persekolahan di Uni Eropa. Sementara itu, Menteri Pendidikan Mariastella Gelmini menyatakan keprihatinannnya terhadap mutu pendidikan di Italia yang dianggapnya sangat mengkhawatirkan. Oleh karena itu, Gelmini merasa bertanggung jawab dan mengupayakannya agar sistem pendidikan yang ada di Italia dapat lebih ditingkatkan sehingga universitas-universitas di Italia dapat menduduki posisi yang diperhitungkan dalam Top 100 Universitas-universitas terkemuka di dunia.

Reformasi pendidikan Kabinet Berlusconi antara lain telah memuat rencana pemotongan anggaran dan riset pendidikan nasional untuk tahun 2009 yaitu sebesar 1,5 milyar euro serta rencana ditutupnya sejumlah jurusan di universitas-universitas yang kurang diminati para mahasiswa. Reformasi pendidikan tersebut juga menyinggung mengenai rencana pemerintah yang sedang mengupayakan privatisasi bagi beberapa uiversitas-universitas terkemuka di Italia.

Unjuk rasa terakhir terjadi pada tanggal 14 November 2008, dengan dikerahkannya sebanyak kurang lebih 100 ribu seratus ribu pelajar/mahasiswa-mahasiswa dari berbagai universitas dan sekolah menengah di kota-kota di Italia (Milano, Verona, Napoli dan Firenze) dengan menggunakan angkutan bus dan kereta khusus ke Roma untuk mengadakan unjuk rasa atas keputusan tersebut. Para mahasiswa-mahasiswa dari luar kota bergabung dengan mahasiswa-mahasiswa dari semua universitas di Roma seperti Universitas La Sapienza, Tor Vergata dan Roma Tre kembali berunjuk rasa di mulai dari Piazzale Aldo Moro, Piramide Cestia dan dari Piazza Repubblica dan tempat tujuan terakhir di Piazza Navona. Beberapa dari para pengunjuk rasa juga terdapat beberapa pelajar/mahasiswa dan peneliti-peneliti Italia yang sedang belajar atau melakukan penelitian di negera negara lain seperti Jerman, Perancis dan Belgia.

Sebelumnya unjuk rasa ini juga mereka lakukan di tempat-tempat strategis di kota-kota di Italia. Beberapa pelajar/mahasiswa yang berunjuk rasa tersebut mengancam untuk menuntut ilmu ke luar negeri seperti ke Amerika Serikat atau negara-negara Eropa lainnya apabila keinginan untuk mencapai karier yang lebih tinggi di Italia mengalami halangan. Beberapa dari mereka khawatir bahwasannya pendidikan di Italia akan selalu diwarnai dengan unsur-unsur politik.

Beberapa mahasiswa kedokteran dan bidang kesehatan dengan berseragam putih-putih dan stetoskop juga melakukan demonstrasi untuk memprotes pemotongan dana dana riset mereka. Demonstrasi tidak saja terjadi di kota Roma tetapi juga terjadi di beberapa kota-kota lainnya di Italia seperti Milano, Napoli, Modena, Bari, Firenze, Torino, Bologna dan lain lain. Di Milano, para pelajar/mahasiswa bahkan sempat memacetkan lalu lintas dan menduduki stasiun kereta api. Di Napoli, mereka menggelar demonstrasi besar-besaran di Piazza (Alun-alun) pusat kota.

Ketegangan terjadi dua minggu lalu di Piazza Navona ketika para pelajar/mahasiswa berkumpul di Gedung Senat, -- tempat disahkannya reformasi di bidang pendidikan oleh Pemerintah Berlusconi tersebut – yang menyebabkan kemacetan lalu lintas. Namun kejadian menjadi lebih tidak terkendali ketika terjadi bentrokan antara kelompok sayap kanan dan pengikut-pengikutnya dengan para pelajar/mahasiswa tersebut. Atas kejadian tersebut sekitar 15 orang pelajar dari gerakan pelajar yang berasosiasi dengan Sayap kanan “Blocco Studentesco” ditahan pihak kepolisian. Sebanyak tiga pelajar dan seorang polisi mengalami luka-luka.

Pemerintah Tengah-Kanan PM. Silvio Berlusconi telah mengesahkan keputusan Gelmini menjadi peraturan yang akan berlaku mulai tahun 2009 setelah mendapat persetujuan Senat setelah dilakukan pemungutan suara yang menyatakan 162 setuju, 134 tidak setuju dan 3 abstein.

Dilain pihak, Oposisi Tengah-Kiri, Walter Veltroni dari Partai Demokratik (PD) mengatakan bahwa pemerintah berusaha menutup mata dan tidak mendengar apa yang disuarakan oleh para pengunjuk rasa. Veltroni juga berpendapat agar reformasi di bidang pendidikan tersebut hendaknya diputuskan melalui referendum nasional. Untuk itu veltroni dan Antonio di Pietro, Pemimpin Italia di Valori (Italy of Values) saat ini berupaya untuk mengumpulkan 500.000 tanda tangan untuk menyerukan diadakannya referendum pendidikan dimaksud.

Meskipun dikatakan sebagai “reformasi” bidang pendidikan, namun sebenarnya reformasi ini cenderung lebih bersifat mengembalikan sistem pendidikan dengan pola yang lama, mengingat beberapa hal yang menjadi prasarat dalam dunia pendidikan di Italia antara lain sbb:

o pelajar diwajibkan memperoleh nilai diatas 6 sampai dengan 10 karena dibawah angka tersebut dinyatakan gagal.

o anak-anak Sekolah Dasar akan diajar dengan sistem wali kelas yang akan mengajar mereka setiap harinya serta mengharuskan mereka mengenakan seragam.

o menerapkan kembali mata pelajaran “Cittadinaza e Costituzione” (Citizenship and Constitution) setelah dihapuskannya mata pelajaran” Educazione Civica” (Pendidikan Kewarganegaraan). Pelajaran mengenai kewarganegaraan ini tahun 1995 perhah dihapus di Italia, karena adanya himbauan Uni Eropa terhadap masalah-masalah rasisme, xenophobia, anti-Semitisme dan sikap kurang tolerasi lainnya.

Wednesday, November 12, 2008

Kemenangan Obama di Mata Pemimpin-Pemimpin Italia

Roma (ITALIA-ANSA) Kemenangan Barack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih dari Partai Demokrat, telah memunculkan berbagai tanggapan yang disampaikan oleh berbagai kalangan pemimpin-pemimpin politik di Italia.

PM Italia Silvio Berlusconi dalam pesan tertulisnya telah menyampaikan ucapan selamat kepada Obama sehubungan dengan terpilihnya Obama sebagai Presiden AS setelah berhasil melewati masa-masa sulit selama kampanye pemilihan Presiden AS. Berlusconi yakin bahwa hubungan persahabatan dan kerjasama antara Italia dan AS akan tetap terjalin dan bahkan lebih erat lagi. Dalam pesan tersebut Berlusconi juga menyatakan bahwa Italia masih merupakan sekutu setia AS dan tidak pernah melupakan sejarah yang tercatat oleh AS dengan Italia dan Eropa.

Sementara itu, Presiden Giorgio Napolitano menyebutkan bahwa kemenangan Obama adalah sebagai suatu kemenangan yang besar. Dalam pesannya, Napolitano menyatakan bahwa Italia merasakan adanya kedekatan hubungan historis, politik, budaya serta sosial dengan masyarakat AS. Menurut Napolitano, kemenangan tersebut merupakan suatu harapan bagi kebebasan, perdamaian dan tatanan dunia baru yang lebih aman dan adil. Bersama Rakyat Italia, Napolitano juga terkesan pada kekuatan dan vitalitas demokrasi AS yang terasa sejak kampanye pemilihan presiden, pemungutan suara hingga menghasilkan presiden baru yang berkomitmen terhadap pembaruan yang ideal.

Menlu Franco Frattini juga berpendapat bahwa kemenangan Obama yang luar biasa tersebut diharapkan dapat meningkatkan kedekatan AS dengan Italia dan negara-negara Eropa lainnya. Frattini berharap agar Obama lebih berkomitmen kepada Eropa melalui NATO , khususnya dalam menangani masalah Afghanistan.

Pemimpin Oposisi Tengah-Kiri Partai Demokratik (PD), Walter Veltroni juga telah menyampaikan ucapan selamat kepada Obama dan menyatakan bahwa kemenangan tersebut merupakan suatu peristiwa yang luar biasa yang diharapkan dapat mengubah dunia dan sejarah AS menjadi lebih baik. Menurut Veltroni, Obama merupakan cerminan dari pemimpin baru AS yang melambangkan kemenangan hati dan nurani masyarakat AS, sehingga dapat memperkuat pandangan dunia atas kemajuan solidaritas, kesetaraan dan pembangunan berkesinambungan.

Suara sumbang terdengar dari pernyataan Maurizio Gasparri, Pemimpin PdL (People’s Freedom Party), yang menyatakan bahwa Organisasi Al Qaeda lah yang menyambut gembira atas kemenangan Obama. Namun sesudahnya, para pemimpin oposisi Tengah-Kiri menyerukan agar Gaspari yang juga anggota Aliansi Nasional Sayap Kanan meminta maaf dan mencabut pernyataan tersebut serta mempertanyakan apakah pernyataan Gasparri merupakan cerminan dari sikap Pemerintah Italia. Gasparri kemudian memperjelas pernyataannya bahwa yang bersangkutan Gasparri lebih yakin akan “keampuhan” kebijakan Partai Republik AS dalam memerangi terorisme internasional.

Berlusconi merupakan salah satu sekutu terkuat dan teman terdekat Presiden George Bush di Eropa. Berlusconi mengutarakan bahwa apabila bertemu dengan Obama maka Berlusconi akan “memberikan nasihat” kepada Obama mengingat usia dan pengalaman Berlusconi yang menurutnya lebih banyak pengalaman- Bahkan Berlusconi mengkomentari bahwa sosok Obama sebagai sosok yang "young, handsome and tanned".

Monday, November 3, 2008

Kunjungan Singgah Korvet KRI Iskandar Muda-367 di Napoli

Pada tanggal 28 Oktober 2008 pukul 10.00 korvet KRI Sultan Iskandar Muda 367 (KRI SIM 367) telah merapat di Pelabuhan Napoli, Italia untuk melakukan kunjungan singgah setelah sebelumnya bertolak dari Galangan Kapal Vlissingen, Belanda kemudian singgah di Pelabuhan Malaga, Spanyol pada tanggal 23-25 Oktober 2008. Korvet KRI SIM yang bernomor lambung 367 ini berawak kapal 80 orang dan dipimpin oleh Letnan Kolonel Laut Ariantyo C. Wibowo.

Selama di Napoli, selain mengisi kebutuhan logistik, Komandan Korvet dengan didampingi seorang staff, Atase Militer KBRI Paris, Kolonel Endang Sodik dan Pramudya Sulaksono, Sekretaris Pertama Politik KBRI Roma juga berkesempatan mengadakan courtesy call dengan Mr. Fausto Surace, Kepala Hubungan Luar Negeri, Marina Estere Italiana (Angkatan Laut Italia) pada tanggal 29 Oktober 2008 pukul 12.00 siang yang sebelumnya didahului pertemuan dengan Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI Roma, Yuwono Agus Putranto di Kantor KBRI Roma.

Pada malam harinya, bertempat di KRI SIM juga telah diselenggarakan acara Cocktail Party yang bertujuan untuk memperkenalkan Korvet KRI SIM kepada counterpart Indonesia di Italia khususnya counterpart Indonesia yang berada di Napoli dan sekitarnya. Selanjutnya pada tanggal 30 Oktober 2008 pukul 10.00 KRI SIM kembali berlabuh menuju Surabaya, Indonesia melalui rute Port Said, Jeddah, Salalah, Cochin, Sabang, Jakarta dan Surabaya.

KRI SIM merupakan korvet ketiga dari empat korvet yang dipesan oleh TNI Angkatan Laut Republik Indonesia yang dibeli dari galangan kapal Vlissingen di Belanda setelah KRI Diponegoro, KRI Hasanuddin dan berikutnya KRI Frans Kaisepo.

Monday, October 6, 2008

Pengerahan Pasukan Setelah Huru Hara Anti-Imigran di Casserta

Roma (ITALIA). Masalah rasisme dan xenophobia kembali muncul dipermukaan di Italia setelah kasus yang terjadi di Castelvortuno, Casserta dekat Napoli, akhir bulan September lalu yang menyebabkan terjadinya perselisihan antara kaum pendatang dengan kelompok mafia Camorra.

Dalam peristiwa tersebut 3 (tiga) imigran dari Ghana, 2 (dua) imigran dari Liberia dan seorang dari Togo tewas tertembak setelah diserang dengan senjata api jenis 120 Kalashnikov.
Kejadian tersebut dilatarbelakangi oleh tuduhan kepada para imigran Afrika sebagai pengedar obat obatan terlarang dan penyebab meningkatnya kriminalitas. Tuduhan tersebut dibatah keras oleh para imigran Afrika yang balik menuduh masyarakt Italia sebagai masyarakat yang rasis.

Polisi telah menangkap seorang anggota kelompok mafia yang dicurigai menyebabkan insiden dimaksud yaitu Alfonso Caesarano, 29, dari kubu Klan Calanesi dari kelompok mafia Camorra. Camora merupakan salah satu kelompok mafia utama yang menguasai daerah Napoli dan sekitarnya yang disinyalir juga mempunyai jaringan peredaran obat-obatan terlarang di kawasan tersebut.

Sehubungan dengan kejadian diatas, Kabinet Tengah-Kanan Silvio Berlusconi telah menyetujui pengerahan 500 tentara selama tiga bulan untuk mengawasi aktivitas tersebut di Casserta. Sebelumnya selama musim panas yang lalu sebanyak 3.000 tentara telah mengadakan patroli di kota-kota utama Italia sebagai akibat dari meningkatnya kriminalitas dan imigrasi ilegal di Italia untuk menangani peningkatan terjadinya kriminalitas dan imigrasi ilegal di Italia.

Menteri Dalam Negeri Italia, Roberto Maroni, mengatakan bahwa pengerahan keamanan tersebut dapat saja diperpanjang, tergantung dari tingkat keamanan di wilayah Casserta. Awalnya, sebanyak 400 personel kepolisian telah dikerahkan terlebih dahulu dan telah diputuskan untuk mengerahkan 1.000 personil tentara di wilayah tersebut.

Saat ini diperkirakan terdapat 11.000 hingga 12.000 imigran gelap di Castelvortuno. Sejumlah 2.000 imigran lainnya telah memiliki surat ijin tinggal dan ijin kerja, bahkan beberapa dari mereka sudah menjadi generasi kedua dan berkewarganegaraan Italia. Mengutip dari berita harian La Repubblica generasi kedua ini juga tidak lepas dari tindakan-tindakan rasisme, namun tetap menganggap bahwa Italia adalah rumah mereka”.

Masalah rasisme dan xenophobia juga terjadi dibeberapa tempat di Italia. Di Milan, seorang Afrika yang lahir di Italia yang bernama Abdul Salam Guibre tewas setelah dituduh mencuri “makanan kecil”. Akibatnya ribuan imigran di Milan membakar tempat-tempat sampah dan menyerukan kata kata yang ditujukan kepada masyarakat Italia yang dianggap rasis, sambil mengacungkan biskuit sebagai tanda simbol protes mereka atas kejadian tersebut.

Dalam pertemuan kabinet akhir bulan September lalu telah menyetujui pembangunan 10 pusat penampungan imigran gelap. Juga pengujian DNA bagi imigran sehingga layak memperoleh ijin tinggal di Italia. Tercatat sebanyak 23.600 imigran gelap (clandestini) masuk ke Italia tahun ini atau telah meningkat sebesar 60% dari angka 14.200 imigran pada tahun 2007.

Maroni mengeluhkan bahwa meskipun sudah terdapat “perjanjian persahabatan” antara Berlusconi dan Colonel Muammar Gadaffi dari Libya untuk membatasi arus imigran gelap di Pulau Lampedusa yang sepakati pada bulan Agustus lalu, namun imigran gelap masih tetap masuk ke Italia. Maroni kemudian mengancam menghentikan bantuan keuangan ke Libya, yang tertulis dalam perjanjian tersebut, serta mengancam akan memimpin sendiri pengerahan kapal pengawas pantai untuk menghalau kapal-kapal kecil para imigran gelap untuk memasuki perairan Italia.

Kedutaan Libya di Roma mengeluaran pernyataan bahwa apabila kedatangan Maroni ke Libya hanya sebagai “in such a spectacular fashion” maka Maroni akan dihentikan. Namun, apabila menyebutkan dengan detail kedatangannya ke Libya maka Pemerintah Libya akan meerima kedatangannya dengan baik. Selama ini Maroni bersikeras agar diadakan patroli gabungan antara Italia dan Libya sebagai bagian dari “perjanjian persahabatan” tersebut.

Pihak-pihak lain seperti Konferensi Uskup Italia (CEI) menilai bahwa rasisme dan xenophobia di Italia jangan dianggap sepele. Kepala CEI, Cardinal Angelo Bagnasco, berpendapat bahwa “imigran gelap juga merupakan saudara”. Banyak diantara imigran ini telah membahayakan jiwa mereka untuk dapat tiba ke Italia melalui laut”. Bagnasco berpendapat akan lebih baik memberikan bantuan ekonomi sebagaimana digariskan oleh Uni Eropa tentang Masalah Keimigrasian yaitu untuk membantu perekonomian negara-negara asal para imigran tersebut.

Masalah rasisme dan xenophobia cenderung masih mewarnai kehidupan masyarakat di Italia. Bahkan PM Berlusconi sendiri sebelumnya pernah berujar di depan Sidang Katolik Roma Konservatif dan kubu tengah-kanan nya menganggap bahwa Italia adalah “Catholic and for Italians”.

Pemerintah Berlusconi berkomitmen untuk memberlakukan kebijakan yang keras terhadap imigran dengan cara memperketat aturan aturan mengnai keimigrasian terutama untuk meningkatkan rasa aman di dalam negeri, menurunkan tingkat kejahatan dan menjaga ketertiban umum di masyarakat Italia.

Wednesday, October 1, 2008

Masyarakat Indonesia Merayakan Hari Kemenangan Idul Fitri di Roma

Seperti halnya tahun lalu, maka Lebaran di Roma telah ditepkan oleh Islamic Center di Roma bahwa Lebaran jatuh pada hari Selasa tanggal 30 September 2008. Umat Islam khususnya masyarakat Indonesia yang berdomisili di Roma merayakannya bersama sama dengan penuh khidmat di Wisma Indonesia, KBRI Roma. Dengan didahului shalat Ied, masyarakat muslim Indonesia juga beberapa diantaranya beberapa rekan dari negara negara sahabat turut hadir dalam Shalat Iedul Fitri tersebut.

Bertepatan dengan umat muslim merayakan hari kemanangannya setelah sebulan menjalankan ibadah puasa, di KBRI juga telah diadakan upacara serah terima Duta Besar RI untuk Republik Italia, Malta, Cyprus dan Organisasi Internasional (FAO, IFAD dan WFP), Susanto Sutoyo kepada Deputy Chief of Mission KBRI Roma, Yuwono Agus Putranto yang akan memimpin KBRI Roma hingga KBRI Roma mendapatkan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh yang baru. Acara diadakan di Ruang Borobudur dengan disaksikan Home staff, local staff dan Darma Wanita Persatuan KBRI Roma. Menurut rencana Duta Besar Susano Sutoyo akan kembali ke Indonesia pada tanggal 5 Oktober 2008. Dubes Susanto Sutoyo telah menduduki jabatan Duta Besar RI di Roma sejak bulan Juni 2005.

Selanjutnya setelah acara serah terima, bertempat di Wisma Indonesia. Duta Besar RI Roma beserta staff membuka kesempatan kepada masyarakat Indonesia di seluruh wilayah akreditasi KBRI Roma untuk bersilaturahmi dalam acara Open House. Open House digelar mulai pukul 11.30 hingga selesai. Tentu saja tidak semua masyarakat Indonesia yang tinggal di Italia dapat hadir di KBRI Roma mengingat lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia, namun minimal beberapa masyarakat Indonesia yang tinggal di Roma dan sekitarnya seperti Viterbo, Porto San Stefano nampak hadir. Dengan hidangan lebaran seperti opor ayam, lontong, sambal goreng ati, sambal goreng krecek, krupuk melengkapi citra masakan Indonesia. Meskipun diakui karena terjadi spekulasi waktu lebaran yang baru diketahui sore harinya (Senin, 29 Sepetember 2008) menyebabkan kurangnya variasi yang disajikan, bahkan kue kue lebaran yang tersajipun kurang bervariasi.

Rencananya, Rabu (1 Oktober 2008) malam akan digelar Open House yang sama oleh Duta Besar RI Vatikan di KBRI Vatikan. Inilah uniknya satu satunya kota di dunia yang mempunyai dua KBRI, meskipun dengan ruang lingkup pekerjaan yang berbeda. Sementara tanggal 3 Oktober 2008 pukul 19.00, di KBRI Roma juga akan digelar Perpisahan dengan Duta Besar RI Roma, Susanto Sutoyo dengan mengundang masyarakat Indonesia di Roma. Deputy Chief of Mission (DCM) atau Wakeppri KBRI Roma juga akan menggelar Open House untuk masyarakat Indoensia di Roma dan sekitarnya pada hari Sabtu siang, pada pukuk 12.30.

MapLoco


Visitor Map