Melihat, mendengar dan berbicara adalah karunia yang tak terhingga yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia sebagai makhluk ciptaanNya. Dengan indera inilah manusia punya jiwa untuk berkreasi, berkarya dan berkomuniukasi. Dengan tujuan inilah saya mencoba menuangkan dalam sebuah citra nuansa dibalik apa yang saya ketahui dengan harapan akan memberikan nilai tambah dan nuansa citra rasa kehidupan ini. Selamat Datang di Nuansa Citra ini
Monday, March 8, 2010
Potensi Industri, Perdagangan dan Kuliner Kota Kudus
Banyak yang tidak menyangka bahwa menurut vesri majalah Forbes tahun 2009 orang terkaya di Indonesia adalah dari perusahaan rokok terkemuka yang berbasis di Kudus. Djarum Kudus, perusahaan rokok kretek yang saat in merambah ke bisnis lain seperti elektronik, rotan dan properti. Di bidang properti Djarum sekarang berjaya dengan superblok terkemuka Grand Indonesia Shopping Town lengkap dengan Hotel Kempinski dan BCA Tower yang terletak di jantung ibukota Indonesia ini.
Industri
Dengan basisnya di kota sekecil Kudus ini, Djarum dapat memberikan manfaat tidak saja dalam hal penyediaan lapangan pekerjaan saja, tetapi juga hal lain seperti pemajuan bidang olah raga seperti Badminton (bulu tangkis) dengan PB Djarumnya yang sejak tahun 70an menelorkan jagoan jagoan bulu tangkis kaliber internasional seperti Liem Swie King, Hastomo Arbi dan lain-lain. Selain itu kota Kudus yang gersang dan panas dapat dihijauan dengan berbagai variasi pohon-pohon penghijauan tropis yang sejak tahun 1979 ditanam diseluruh ruas jalan disepanjang kota Kudus. Tahun ini ruas jalan antara Semarang - Kudus (kurang lebih 52 km) diuapayakan penghijauan dengan menanam tanaman trembesi sebagai langkah kepedulian perusahaan tersebut terhadap lingkungan.
Tidak hanya Djarum yang memakai embel-embel "Kudus" sebagai perusahaan besar yang beroperasi d Kudus ada juga perusahaan lain seperti Pura Barutama, perusahan packaging dan juga percetakan besar. Juga perusahaan rokok lainnya dari sekali besar, menengah hingga kecil lainnya seperti PR Nojorono, Jamboe Bol, Sukun dll.
Perdagangan
Dalam masalah pembangunan meskipun tidak begitu pesat, namun apabila dibandingkan dengan kota-kota lain yang lebih besar potensi industri dan infrastruktur lainnya tidak kalah besar. Sebelum munculnya mall dan shopping center lainnya di beberapa kota-kota kecil di Jawa Tengah lainnya, Kudus sudah lebih dari dua puluh tahun sudah mempunyai mall/pusat pertokoan besar lengkap dengan Matahari sebagai the main tenant nya juga dilengkapi dengan Matahari Time Zone, food court, dan bioskop 21. Meskipun keadaanya sudah memprihatinkan Plaza Kudus menurut rencana akan direnovasi dan dikembangkan dengan Kudus Extension Mall disebelahnya (tempat parkir) yang tahun 2011 sedang dibangun pusat perbelanjaan lainnya dengan Hypermart sebagai tenant utamanyanya yang akan melengkapi pusat perbelanjaan di Kudus setelah di Alun ALun Simpang 7 juga dimanfaatkan sebagai Mal Kudus dengan Ramayana sebagai main tenantnya dan KFC. Tidak dapat dipungkiri Kota Kudus sepertinya mempunyai daya magnet sejak tahun tahun sebelumnya khususnya di daerah-daerah sekitarnya seperti Jepara, Pati, Demak, Purwodadi, Rembang dan Blora. Apalagi Pasar Kliwon Kudus saat ini menjadi pusat grosir dan perkulaan yang paling lengkap di kawasan itu.
Kuliner
Kuliner di Kudus, sangat spesifik. Soto Kudus saat ini meskipun tidak dicanangkan telah menjadi salah satu variasi makanan nasional. Soto Kudus menjadi salah satu variasi soto selain soto Betawi, Soto Padang, Soto Madura, Soto Banjar dan lain-lainnya. Di Jakarta Soto Kudus sudah sangat populer dan mudah di dapat dimana-mana. Aroma bawang putih dan kuah yang gurih dan segar Soto Kudus ini berbeda dengan soto-soto lainnya. Soto Pak Denuh hingga sekarang turun temurun masih banyak diserbu penggemar kuliner yang sedang mampir ke Kudus. Masyarakat Kduus sendiri memang suka "ngiras" istilah jajan di warung. Soto-soto lainnya yang terkenal adalah Soto Pak Ramijan, Karso Karsi dan beberapa warung soto di Taman Bojana. Pada umumnya warung-warung soto ini tidak buka cabang di luar Kudus. Hanya Jatmi, yang sekarang buka di Jakarta Barat. Konon untuk mempertahankan citra rasa aslinya, Jatmi mendatangkan "air" aslinya dari Kudus sebagai bahan untuk kuah sotonya. Beberapa kuliner asli Kudus antara lain adalah pindang, lenthog tanjung (lontong, sayur nangka dan semur putih), tahu lontong dan jenang. Saat ini jenang menjadi komoditi istimewa untuk oleh-oleh khas dari Kudus yang dipacking sangat modern.
Wednesday, March 3, 2010
I Love Train
"I love train"......itu semboyan saya, cuma masalahnya di Jabodetabek ini keretanya kurang memuaskan. Saya baca di majalah Kereta Api kalau yang wara wiri di Jabodetabek itu kereta Jepang buatan 1968 (tahun ketika saya lahir) yang sudah dibuang dari induknya celakanya kitalah yang mau menampung sampahnya.
Memang setelah diservis kondisinya bisa dipakai dan melaju yang kata orang Jepang yang dulu pernah pakai bertepuk tangan karena bisa melihat nostalgia kereta mereka yang diadopsi di Indonesia. Namun masalahnya pengguna semakin banyak dan infrastruktur semakin digiatkan pada kabinet SBY sekarang, sebaiknya lebih mentereng dikit, masa seh kita gak mampu beli gerbong yang lebih layak, bukannya apa apa orang-orang yang sok kaya di Jakarta masih "sinis" kalau bilang kita naik kereta, bagi mereka lebih baik macet ria dengan mobil pribadi ketimbang naik kereta yang menurut mereka "kampungan" atau "ah kereta kan hanya untuk orang miskin! dan bau kambing".
Kalau diperhatikan kereta bikinan PT INKA Madiun lebih bagus cuma dibilang "mahal" loh gimana mau meningkatkan dan membangkitkan orang naik kereta kalau keretanya sebenarnya adalah kereta "buangan" yang kurang bikin menarik atau berganti menggunakan kereta.
Di Eropa yang saya lihat memang tidak semua kereta bagus, tapi masih terpelihara baik dan bersih, syukur deh kereta jabodetabek yang kelas ekspress/AC Ekonomi masih lumayan bersih tapi alangkah baiknya kalau gerbongnya ditingkatkan yang lebih modern dan sophisticated meskipun harga ticketnya sedkit lebih mahal asal nyaman, tepat waktu dan bermanfaat, paling tidak mengurangi kemacetan lalu lintas di Jakarta.
Friday, June 6, 2008
Xenophobia di Italia: Satu dari Tiga Masyarakat Italia Menolak Adanya Pembangunan Masjid Baru
Roma (ITALIA) - Laporan dari Kementerian Dalam Negeri Italia yang dihimpun oleh wartawan Italia Fiorenza Sarzanini dari harian nasional Il Corriere della Sera edisi akhir April 2008 lalu mengatakan bahwa kaum pendatang asing di Italia saat ini sedang mengalami peningkatan, disamping itu juga dilaporkan mengenai bertambahnya perkawinan campuran.
Dengan pertambahan kaum imigran di Italia, nampaknya masyarakat Italia sendiri banyak dihinggapi perasaan xenophobia (rasa ketakutan terhadap warga pendatang asing). Berdasarkan survei terhadap masyarakat Italia tersebut bahkan diperoleh gambaran bahwa satu dari tiga orang Italia tidak menginginkan adanya masjid.
Jumlah clandestini (pendatang gelap atau illegal) di daerah Lombardia (Kota Milan dan sekitranya) saja tercatat mencapai 860 ribu jiwa. Dari jumlah imigran tersebut sebanyak 55% adalah beragama Islam. Selama tahun 2006, kaum pendatang yang lahir di Italia dari orang asing terdapat sekitar 57.765 dengan pertambahan sekitar 11,1% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sehingga dapat dikatakan bahwa imigran Islam meningkat sekitar 10% dari jumlah seluruh imigran di Italia.
Dalam jangka 10 tahun pertambahan Imigran ternyata sudah bertambah dua kali lipat, jumlahnya sekarang sudah lebih dari 2.400.000 jiwa yang mempunyai izin tinggal secara reguler di Italia, sedangkan menurut data dari Kantor Catatan Sipil Italia (anagrafe) jumlah kaum pendatang sudah berkisar 3 juta jiwa. Sebagian besar mereka sudah memiliki rumah sendiri, pekerjaan, anaknya juga masuk sekolah, dan juga hampir semuanya membayar pajak. Namun demikian hal itu tidak memberikan jaminan bagi keamanan masyarakat Italia terutama bagi warga asing yang masuk secara gelap/illegal.
Laporan mengenai kaum imigran dari Kementerian Dalam Negeri menjelasan bahwa Pemerintah Italia telah menyediakan semacam tempat tempat pelatihan untuk memperdalam spesialisasi beberapa jenis pekerjaan dengan harapan agar para imigran lebih mudah mendapatkan lapangan pekerjaan nantinya kalau kembali ke negara asalnya. Sebagai catatan bahwa besarnya perkembangan jumlah kaum imigran dibawah umur yaitu dari 51.000 jiwa pada tahun 1991 pada tahun 2007 telah mengalami peningkatan menjadi sekitar 666.000 jiwa.
Pertambahan warga pendatang asing di Italia telah menunjukkan bentuk keresahan dan kekhawatiran keamanan bagi penduduk setempat, terutama perhatian terhadap pendatang asing yang beragama Islam yang sering menimbulkan kecurigaan di mata masyarakat Italia, meskipun sebenarnya beberapa dari masyarakat Italia masih menunjukkan rasa toleransinya.
Laporan ini dikutip dari Prof. Mazio Barbagli yang disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Italia Giuliano Amato (Kabinet Jaman Romana Prodi) yang dalam perhatiannya menambahkan lagi hasil riset yang dilakukan oleh Osservatorio Sociale (observasi sosial) bersama dengan Makno-Consulting, yang mengadakan suatu pengamatan sekitar 31,4 % atau satu dari tiga masyarakat Italia mengatakan ’’tidak setuju dengan adanya mesjid’’, sedangkan 55% memikirkan bahwa kaum imigran dari negara-negara Islam lebih banyak memberikan problem dari pada kaum imigran dari negara negara lainnya. Sedangkan lebih dari 17% khawatir akan kemungkinan adanya percobaan terroris dari kelompok fundamentalis (cellule integraliste). Namun hal ini bukan berarti memberikan kehawatiran bagi warga asing di Italia, 70% berpendapat baik terhadap sambutan penduduk setempat, walaupun banyak yang mengeluhkannya terutama bagi yang tidak mendapatkan pekerjaan dan kesempatan lowongan pekerjaan dengan gaji yang relatif rendah.
Berdasarkan data yang diperoleh terhitung mulai tangal 1 Januari 2007 terdapat sekitar 282.000 warga Albania yang mempunyai ijin tinggal reguler, ditambah lagi 278.000 warga asal Rumania yang berpendidikan yaitu sekitar 70 % diantaranya mempunyai diploma atau pendidikan tamatan universitas’.
Mantan Menteri Dalam Negeri juga menerangkan bahwa counterpartnya di Bucarest, Rumania mengatakan bahwa warga Rumania yang berada di Italia jumlahnya kurang lebih sekitar satu juta. Hal ini merupakan data sementara yang dapat dikonfirmasikan mengenai jumlah warga Rumania yang keluar masuk ke Italia.
Dalam laporan, warga pendatang juga dibagi berdasarkan dari jumlah dimana mereka bertempat tinggal di beberapa bagian wilayah di Italia. Pada umumnya warga pendatang banyak mendapatkan lowongan pekerjaan di daerah Utara Tengah Italia, jumlahnya yang terbesar adalah dibagian Utara Barat yang berjumlah 1.067.281 jiwa, sedangkan dibagian Timur Utara Italia jumlahnya sampai 802.239 Italia Tengah sekitar 727.690 sedangkan di daerah Italia Selatan 244.088 dan Pulau Sicilia sejumlah 97.687 jiwa. Jumlah total keseluruhan sekitar 2.938.922 jiwa dengan umur menengah rata rata 30,4 tahun
Seperampat kaum pendatang banyak bertempat tinggal di daerah Lombardia, hal ini diperkuat dengan bertambahnya jumlah perkawinan campuran. Perkembangan masuknya orang asing ke Italia menurut data pada tahun 2004 terdapat sekitar 17.835 dan perkawinan campuran sekitar 9 % dari jumlah terdaftar yang diperoleh pada tahun tersebut. Sebagian besar kasus ini pada umumnya hampir 76 % dari jumlah pria (Italia) yang memilih wanita asing menjadi isterinya.
Untuk perbandingan prosentase kaum pendatang di Eropa berdasarkan jumlah penduduknya adalah sbb:
- Finlandia : 2,1%;
- Swedia : 5,4%;
- Norwegia : 5,1 %;
- Denmark : 5,4% ;
- Irlandia : 5,6%;
- Inggri : 5,2 %;
- Belanda : 4,3 %;
- Jerman : 8,8%;
- Belgia : 8,8% ;
- Perancis : 5,7 %;
- Portugal : 2,7 %;
- Spanyol : 4,6 % ;
- Swiss : 20,2 %;
- Austria : 9,4%;
- Yunani : 8,1 %; dan
- Italia : 5 % Italia
Menurut Cardinal Renato Raffaele Martino, sebagai Ketua Penasihat Pontificio menganjurkan sebaiknya Italia tidak perlu menghalang-halangi kedatangan para pendatang di Italia, karena Italia sebenarnya masih membutuhkan kaum pendatang tersebut untuk jenis pekerjaan berat. Disamping itu juga hendaknya masyarakat Italia tidak membiarkan mereka hidup tanpa jaminan hidup yang jelas, karena perlu bekerja untuk mempertahankan hidupnya.
Sementara itu di Bologna, sebuah selogan pemda kota Bologna yang himbauan tentang masalah keamanan di kota Bologna baru baru ini telah menarik perhatian yang sangat besar, kendati selogan ini sudah ada sejak tahun 2005. Meskipun Partai politik Lega Nord sudah bergerak untuk menghambat masuknya kaum imigran yang tanpa mempunyai jaminan kerja di Italia. Menurut Lega Nord, sebagai administrator, walikota Bologna harus mempunyai program yang lebih obyektif dan berorientasi yang tepat untuk dapat mengendalikan tingkat keamanan di daerahnya. Bologna selama ini dikenal sebagai kota merah (rosso) atau kota komunis -- kota yang sebagian besar penduduknya berhaluan komunis sejak revolusi Italia hingga saat ini.
Pusat perhatian terhadap himbauan keamanan ini kembali didengungkan mengingat semakin meningkatnya jumlah angka kriminalitas akhir akhir ini disinyalir banyak dilakukan oleh warga pendatang asing. Menurut data dari Kementerian Dalam Negeri Italia sejak tanggal 31 Desember 2006 jumlah pendatang Islam adalah sekiar 11.615 jiwa yang tinggal di wilayah Comune di Bologna.
Pembangunan masjid di wilayah Comune di Bologna saja agaknya telah mendapat halangan dari beberapa pihak. Setelah diadakan pemungutan suara dari partai politik, diperoleh hasil bahwa penduduk setempat, pemerintah daerah, maupun pejabat tingggi Kota Bologna (assessore Urbanistica), menolak untuk penambahan pembangunan masjid baru di Bolonga. Walikota Bologna, Sergio Cofferati mengatakan bahwa proyek tersebut secara definitif sudah ditolak demi menjaga hubungan baik dengan UCOII (Centro Islam di Italia). Dalam pembicaraannya kedua belah pihak agar dapat memahami kondisi mengenai masalah tersebut.
Xenophobia Bologna
Untuk sementara dalam menghadapi tingkat keamanan di wilayah Comune di Bolonga selain kepolisian juga penduduk setempat secara sukarela ikut aktif berjaga jaga terutama pada malam hari. Tindakan ini juga diikuti oleh orang asing yang tinggal di wilayah tersebut. Tindakan terhadap pengamanan lingkungan ini juga dilakukan di beberapa kota di Italia terutama di kota kota Italia Utara.
Sikap xenophobia Masyarakat Italia terhadap kaum pendatang Muslim ini menunjukkan sikap semakin tajam. Berdasarkan responden yang dihimpun menunjukkan bahwa kekhawatiran dari tahun ke tahun semakin meningkat. Terlebih lagi kekhawatiran akan Fundamentalisme merebak ke seluruh Italia. Masjid Roma pada awal pembukaanya oleh Giulio Ferrari, pemimpin Lega Lombardia dalam konferensi persnya mengatakan akan menjadi markas besar ekspansi Muslim di Eropa. Pernyataan ini jelas membuat wakil-wakil dari Katolik Konservatif khawatir, mengingat basis umat Katolik justru berada di Kota Vatikan yang terletak di Kota Roma.
Pemerintah Italia maupun Masyarakat Italia yang bersikap apatis dan xenophopia terhadap integritas minoritas Muslim dari Afrika Utara, Timur Tengah dan negara negara Islam lainnya, hendaknya menyadari bahwa Islam tidak selalu identik dengan radikalisme dan fundamentalisme. Saat ini pendatang Muslim sudah menjadi bagian dari Masyarakat di Italia dan mau tidak mau Pemerintah dan Masyarakat Italia hendaknya dapat menerima keberadaan pendatang Muslim ini, bukan dengan cara memusuhi tetapi perlu adanya dialog dan kerjasama untuk memecahkan permasalahan.
Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Muslim, menurut data resmi terakhir Konsuler KBRI Roma Bulan Februari 2008, masyarakat Indonesia tercatat sekitar 1.173 jiwa yang tinggal di Italia, Malta dan Cyprus. Meskipun demikian, tidak semuanya dapat dikatakan sebagai imigran, mengingat angka ini termasuk pelajar/mahasiswa dan mix-couple. Angka tersebut masih menunjukkan angka yang relatif kecil dibandingkan jumlah imigran dari beberapa negara Islam lainnya seperti Maroko, Bangladesh dan Albania.
Reports by Binsar Aritonang
Edited by Pramudya Sulaksono
Tuesday, May 13, 2008
Walikota Beragama Islam di Italia Suami Wanita Indonesia

Mohamed Arturo Cerulli yang akrab dipanggil Arturo akhirnya terpilih menjadi walikota (Sindaco) Monte Argentario yang baru dari partai politik Tengah-Kanan (centrodestra), Popolo della Liberta merupakan satu satunya Walikota di Italia yang beragama Islam. Arturo memeluk agama Islam karena cintanya dengan istrinya. Demikian laporan dari wartawan Il Corriere della Sera, Marco Gasperetti yang dimuat di harian tersebut tanggal 18 April 2008.
Sebelumnya Arturo mempunyai nama baptis, Il Cristianissimo Arturo dengan marga Cerulli. Arturo lahir di Porto Santo Stefano dan saat ini berusia 53 tahun dan berprofesi sebagai insinyur nuklir. Sewaktu menikah dengan istrunya istrinya, Arturo pindah agama menjadi Islam dan mengambil sumpah diatas Quar’an dan juga melakukan sirkumsisi dengan seorang rekannya yang seorang doktor Italia di Rumah Sakit Ortobello. Arturo menjelaskan bahwa agama dengan politik mempunyai arah arah yang berbeda’’.
Walikota yang baru untuk Comune di Monte Argentario ini, terpilih dengan suara 45,42% dan dinyatakan sudah memenuhi ketentuan dalam kelompok suara Liberta, dimana koalisi terdiri dari PDL (Partai Demokrat Liberta), UDC (Unita Demokrat Cristiani) dan Parpol Kanan dan dari Partai Lista Civiche. Ditambahkan lagi bahwa kemenangan ini dipromotori oleh para VIP. Menurutnya menjadi walikota adalah salah satu kehormatan baginya karena posisi ini sebelumya adalah salah satu kedudukan politik yang paling dihormati, karena pernah ditempati oleh Susanna Angelli, yang dianggap penduduk sebagai seorang yang berjasa besar di daerah tersebut. Arturo berharap agar posisi ini dapat memberikan inspirasi baginya. .
Arturo seblumnya berpandangan cenderung pesimis menjadi walikota mengingat Arturo telah pindah agama apalagi dengan nama Muhamed Arturo. Sebenarnya kepindahannya menjadi seorang muslim adalah ketika pada tahun 1988 pada saat Arturo bertugas di Indonesia dan bekerja dibagian pusat tenaga Nuklir yang tempatnya tidak jauh dari Jakarta. Arturo ingat bagaimana dirinya jatuh cinta dengan istrinya yang bernama Sri Semiarti yang akrab dipanggil Nunuk. Sebelumnya orang tuanya sangat menentang karena tidak setuju dengan keberadaan orang asing dirumahnya, apalagi beragama yang berbeda. Namun, karena demi cintanya kepada istrinya Arturo pindah agama. Namun, Arturo menekankan lagi bahwa pindah agama baginya adalah tanpa ada yang mengikatnya sebagaimana yang harus dilakukan oleh umat muslim.
Konon jikalau dirinya menjadi walikota, menurutnya tanda salib di setiap sekolah di daerah tersebut akan diturunkan, namun kenyataanya Arturo tidak pernah menyinggung masalah tersebut setelah menjadi walikota karena itu adalah kelakarnya saja, Namun diakuinya bahwa dirinya sangat senang masuk Islam.
Mohamed Arturo sebagai walikota sangat gembira dalam kehidupan keluarganya, Arturo saat ini sudah dikaruniai dua orang anak yang berumur 12 tahun dan 17 tahun yang akan memberikan kebasan untuk memilih agamnya sendiri. Harapan Arturo dengan menjadi Walikota ini adalah dapat mengembalikan situasi di Argentario seperti apa yang dialaminya sebagaimana posisi Susanna Agnelli pada tahun 80an yaitu dengan mengembangkan kembali daerah Monte Argentario menjadi daerah tujuan wisata yang lebih besar.
Sebagai perbandingan dengan Kota Roma, maka penduduk Monte Argentario berjumlah hanya 12.865 dengan Porto San Stefano sebagai kota utamanya dibandingkan dengan kota Roma yang berpenduduk sekitar 3 juta dengan tingkat kepadatan lalu lintas yang tinggi maka daerah Argentario sangat tepat sebagai tempat peristirahatan dan pariwisata dengan pemandangan bukit dan pantai yang indah yang dapat ditempuh sekitar 2 jam dari Roma.
Masalah perbedaan agama agaknya masih menjadi sesuatu yang agak sensitif terhadap kehidupan politik dan sosial di Italia meskipun akhirnya Arturo tetap menjadi walikota pada akhirnya namun wartawan setempat agak banyak menyinggung mengenai kebiasaan negatif umat beragama lain seperti kebiasaan ybs dalam melakukan ibadah yang nihil dan joke mengenai bahwa dengan memeluk agama Islam maka ybs akan dapat beristri lebih dari satu. (sn/PSB/RM08)
Tuesday, May 6, 2008
Pro dan Kontra Sunat Genital Terhadap Perempuan
Diberitakan bahwa setiap tahun di Bandung diadakan acara penyunatan massal untuk anak-anak perempuan, dengan alasan kepercayaan dan adat kebiasaan. Penyunatan missal ini merupakan sebuah fenomena yang sering dipraktekan dinegara-negara muslim
Hari Minggu tanggal 13 April 2008, di Bandung telah diadakan acara penyunatan massal untuk anak-anak perempuan yang diadakan oleh sebuah yayasan keagamaan Assalaam, yang banyak membantu dalam memberi bantuan keagaman dan juga pendidikan agama Islam, sunatan massal ini diadakan secara gratis pada bulan April bertepatan dengan setiap peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW.
Kurang lebih dari 200 anak perempuan, pada hari Minggu pagi itu melakukan sunatan yang diadakan di sebuah sekolah Sekolah Menengah Pertama (SMP), dimana sebuah kelas disulap menjadi ruang praktek penyunatan yang dilakukan oleh beberapa bidan dan perawat. Anak- anak itu datang dengan ditemani oleh ibu mereka. Setelah melakukan penyunatan, anak-anak itu diberi hadiah berupa mainan, buah-buahan dan pakaian bekas.
Menurut ketua Yayasan Assalam, Lukman Hakim, praktek penyunatan yang dilakukan untuk anak perempuan itu mempunyai beberapa keuntungan positif untuk masa depan mereka, bila mereka telah tumbuh dewasa, maka hasrat libido yang tinggi akan teredam, disamping memberikan keseimbangan moral dan menambah keindahan dimata suami mereka.
Menurut organisasi kesehatan dunia, saat ini tercatat lebih dari 100 sampai 140 juta wanita di lebih dari 140 negara di Afrika dan Yaman yang mengalami praktek penyunatan dan tercatat lebih dari 91 juta wanita dan anak wanita di seluruh dunia yang mengalami praktek penyunatan yang selalu dilakukan setiap tahun pada anak wanita dibawah umur 9 tahun atau bahkan sering dijumpai pada bayi perempuan yang baru lahir.
Indonesia, India, Irak, Malaysia, Saudi Arabia, Israel, adalah negara-negara yang dianggap kerapkali mempraktekan ritual ini, namun tidak dilaporkan statistik secara pasti, karena tidak adanya data yang akurat. Akan tetapi di 15 negara di Afrika dan negara di Eropa praktek ini dianggap illegal, sementara di Perancis dan Amerika Serikat beberapa keluarga imigran asing sedang diproses hukum karena mempraktekan ritual ini. Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, keabsahan ritual penyunatan untuk anak-anak perempuan mulai diperdebatkan.
Pada tahun 2003, menurut penelitian Badan Kependudukan Nasional, di Indonesia hampir 96% dari keluarga yang beragama Islam, melakukan praktek ritual ini untuk anak perempuan mereka, sebelum mereka menginjak usia 14 tahun. Namun saat ini telah ada undang-undang yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan yang melarang para dokter untuk melakukan penyunatan di rumah sakit-rumah sakit setempat, khususnya untuk para bayi-bayi yang baru lahir, Akan tetapi belum ada undang-undang yang mengatur pelarangan penyunatan ini, untuk para bidang yang menolong persalinan yang dilakukan dirumah-rumah. Dengan demikian kasus ini sangat dilematik sekali, apalagi untuk sebagian masyarakat muslim di Indonesia yang beranggapan bahwa penyunatan untuk anak perempuan juga merupakan bagian dari rukun iman yang mutlak dilakukan oleh seorang muslim yang taat.
Para antropolog dunia yang menpelajari kasus ini mengatakan bahwa asal muasal upacara ini telah ada sebelum lahirnya agama Islam, dimana dari hasil penelitian tersebut menjumpai bahwa praktek-praktek penyunatan baik untuk anak lelaki dan perempun banyak ditemukan di setiap suku bangsa di setiap negara, bahkan menurut Atashendartii Hapsya, pemilik sebuah rumah sakit swasta, menyatakan bahwa kasus ini juga banyak dijumpai dikalangan agama Kristen di Pulau Jawa, dengan demikian maka kesimpulanya bahwa disetiap daerah merupakan hal biasa apabila kebudayaan mempengaruhi agama.
Para ahli menyatakan bahwa di Indonesia, ritual penyunatan baik untuk anak lelaki maupun untuk anak perempuan adalah ritual upacara penyucian dan pembersihan diri. Tetapi dibeberapa daerah di Nusantara, penyunatan untuk anak perempuan ini dilakukan hanya sebagai simbul, dimana pemotongan sebagian kecil dari bagian alat vital perempuan, yaitu clitoris diganti dengan pemotongan bagian kecil dari batang buah kuncit atau bisa juga dengan menusukkan sebuah jarum pada bagian kecil dari alat vital itu, (tanpa perlu memotongnya) sampai keluar sedikit darah. Namun, menurut beberapa saksi yang sering menyaksikan upacara penyunatan ini, menyebutkan bahwa pemotongan benar-benar dilakukan bukan hanya secara simbul dan besar kecilnya bagian yang dipotongpun bervariasi antara sebesar setengah biji beras, setengah kacang polong atau seujung daun.
Menurut Siti Rukasitta, dari Yayasan Assalam yang telah bekerja lebih dari 20 tahun dan telah sangat berpengalaman dalam memimpin ritual penyunatan ini mengatakan bahwa pemotongan hanya dilakukan sebagaian kecil saja yaitu tidak lebih dari seujung kuku kecil dengan bantuan alat-alat potong yang telah disterilkan.
Akan tetapi menurut dokter kandungan Italia, Laura Guarenti yang mewakili LSM Jakarta, penyunatan yang dilakukan untuk anak perempuan tidak memberikan keuntungan seperti yang dilakukan untuk anak lelaki, karena untuk anak lelaki bila dilakukan bisa mencegah penyakit kanker dikemudian hari. Sementara untuk anak perempuan bila tidak melakukan penyunatan tidak akan menimbulkan dapak negatif dikemudian hari bahkan dianjurkan untuk tidak melakukan penyunatan untuk anak perempuan.
Sementara itu, di Eropa dan Amerika berkembang upaya memberantas penyunatan untuk anak perempuan. Para antropolog, perangkat hukum dan paramedis bersama-sama berupaya memberi pengertian kepada masyarat yang masih percaya untuk melakukan penyunatan untuk anak perempuan agar segera menghentikan praktek itu.
Pengarahan yang diberikanpun menitikberatkan bukan pada keuntungan apa yang diperoleh pada praktek penyunatan untuk anak perempuan, karena seperti telah dibahas sebelumnya, bahwa tidak ada keuntungan yang dapat dipetik dari praktek itu.Tetapi pengarahan diberikan lebih pada memperhatikan hak-hak azasi anak-anak yang harus dilindungi, melindungi apa yang akan rampas pada diri anak-anak itu.” Tetapi masalahnya, di Indonesia,” menurut Laura Guarenti, “masih ada para ibu yang percaya bahwa bila mereka melakukan penyunatan pada anak-anak perempuan mereka berarti mereka telah melakukan hal yang mulia untuk anak-anak mereka, sebuah tradisi yang bagi masyarakat barat sangat sulit dimengerti”.
Masalah Hak Asasi Manusia di Eropa khususnya di Italia sangat didengungkan keras olah sebagian besar masyarakatnya terutama masalah penyunatan genital terhadap kaum perempuan karena mendapat pertentangan yang kerasa, mengingat menurut masyarakat dan asosiasi pembela wanita di Italia bahwa penyunatan genital terhadap wanita ini tidak akan membawa dampak yang ditimbulkan.
Masalah penyunatan genital terhadap perempuan tidak lepas dari masalah penekanan terhadap kaum wanita, khususnya kepada perempuan wang berusia dibawah 9 tahun. Meskipun belum pernah dilakukan oleh masyarakat Italia karena mayoritas penduduk Italia adalah beragama Katolik yang tidak menganjurkan umatnya untuk melakukan penyunatan baik terhadap laki laki atau wanita, namun kemungkinan terjadi penyunatan wanita ini dapat dilakukan oleh para imigran yang beragama Islam. Saat ini di Italia, Rumah-rumah sakit dilarang keras melakukan praktek penyunatan khusus terhadap wanita.
Reports by Tine Yulianti
Edited by Pramudya Sulaksono
Tuesday, April 29, 2008
Dubes RI Roma Serahkan 36 Paspor Kepada Anak dari Pasangan Kawin Campur Italia- Indonesia
Rasa haru menyelimuti wajah para ibu ketika Duta Besar RI Roma, Susanto Sutoyo ketika memberikan paspor kepada para 36 anak dari pasangan kawin campur antara Indonesia-Italia. “Akhirnya anakku menjadi menjadi Warga Negara Indonesia, anakku tidak lagi orang asing di negaraku”, demikian ungkapan dengan isak tangis seorang Ibu dalam acara yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Roma bekerjasama dengan organisasi KPC (Keluarga Perkawinan campuran) Melati Worldwide, dimana misi dan visi organisasi tersebut berada di bawah naungan “Aliansi Pelangi Antar Bangsa” (APAB), tim avokasi yang ikut andil memperjuangkan dwikewarganegaraan sejak bulan September 2002.Acara Penyerahan paspor Indonesia dan Temu Muka yang mempertemukan antara Duta Besar RI Roma, Susanto Sutoyo dengan masyarakat Indonesia, dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 26 April 2008 di Vicenza. Acara antara lain dihadiri oleh lebih dari 116 orang, tidak saja dari keluarga pasangan kawin campur tetapi juga para mahasiswa yang sedang tugas belajar di Italia. Keluarga pasangan kawin campur Indonesia-Italia tersebut antara lain berasal dari berbagai wilayah utara Italia yaitu Udine, Taipana, Pordenone, Fiume Veneto, Castelfranco, San Dona Piave, Milano, Monza, Novara, Brescia, Bergamo, Piacenza, Mantova, Corbetta, Verbania, Torino, Sanremo, Bolzano, Forli, Lavis dan yang paling jauh dari Machi, menyatakan kebanggaan bisa bertemu dan menerima paspor anak langsung dari Dubes RI Roma.
Dalam sambutannya, Duta Besar RI menyampaikan bahwa UU Kewarganegaraan No.12 Tahun 2006 bersifat konservatif, masih memegang azas tunggal kewarganegaraan sehingga dibatasi hanya sampai usia 18 tahun. Lahirnya UU ini tidak terlepas dari desakan kuat para warga kawin campur untuk dapat menampung permasalahan yang dihadapi. Harapan para Ibu masih terbuka kemungkinan disetujui dwi kewarganegaraan anak sampai seterusnya.
Ditambahkan pula bahwa menjalani hidup sebagai pasasangan kawin campur bukanlah hal yang mudah. Selalu ada hal-hal yang membuat berbeda antara lain latar masalah latar belakang budaya. Namun diharapkan masalah tersebut jangan menjadi kendala. Dengan masuk sebagai keluarga kawin campur, seharusnya sudah sejak awal sudah bisa menerima perbedaan tersebut sehingga dapat membina keluarga dengan baik. Manfaat dari dwi kewarganegaraan sangat besar, bukan hanya apabila kembali ke tanah air dapat segera kembali tanpa harus minta visa, namun yang penting memiliki daya perlindungan dan kepastian hukum yang jelas.
Dubes RI Roma juga mengharapkan agar dapat tumbuh tanggungjawab para orang tua khususnya para ibu, walaupun memang hak individual, untuk terus memberikan pelajaran tentang budaya Indonesia, namun paling tidak tetap mempertahankan budaya Indonesia. Kehidupan masyarakat Italia sebenarnya hampir sama dengan Indonesia, dekat dengan orang tua, sehingga tidak jadi kendala bagi para ibu dalam mendidik anak. Selanjutnya, Dubes RI Roma menambahkan bahwa keluarga kawin campur memberi peluang, mempermudah tugas KBRI yang senantiasa mendorong hubungan erat kedua negara. Untuk itu, bagi masyarakat Indonesia dan keluarga pasangan kawin campur, diminta tetap mendorong hubungan kedua negara tetap lancar dan mencoba setiap peluang yang ada.
Setelah penyerahan paspor, seorang wakil ibu memberikan sambutan bahagia atas disetujui dwi kewarganegaraan bagi anak-anak mereka. Mengungkapkan kebanggaan anak yang dikandung menjadi warga negara Indonesia walaupun sampai usia 18 tahun dan masih berharap diberikan pemerintah untuk selamanya. Dalam sambutannya, disampaikan juga harapan kiranya kepada para suami warga Italia, diberikan permanent resident oleh pemerintah Indonesia, seperti yang mereka peroleh di Italia, karena para suami juga sangat cinta Indonesia.
KBRI Roma telah memproses 59 usulan kewarganegaraan RI dan seluruhnya telah disampaikan kepada Departemen Hukum dan HAM, telah diperoleh 37 persetujuan. Persetujuan perdana dwi kewarganegaraan telah disampaikan langsung pada pertemuan di Milan bulan Oktober tahun yang lalu. Disela-sela acara, Fungsi Konsuler membuka Warung untuk layanan kekonsuleran bagi masyarakat Indonesia maupun keluarga Italia pasangan kawin campur. Saat itu dapat diselesaikan 49 layanan kekonsuleran terdiri dari pengajuan kewarganegaraan RI (9); visa sosial budaya (13); pergantian paspor lama (7); perpanjangan paspor (8) dan lapor diri (9). Demikian juga dilakukan Pendataan Pemilih untuk Pemilu 2009 bagi warga Indonesia yang selama ini belum mendaftar.
Reports by Rachmaida Ginting
Edited by Pramudya Sulaksono
Friday, February 23, 2007
Perubahan Gaya Hidup Orang Italia Dalam Mengkonsumsi Makanan
Dari survei asosiasi konsumen Italia, diantara 100 orang Italia 31 persen memilih makan roti (sandwich), 29 persen memilih pizza, 19 persen salad, 6 persen kesulitan uang membeli makanan dan sisanya makan di tempat yang sederhana (restoran).
- antipasto (hidangan pembuka),
- primo piatto (makanan pertama) dan
- secondo piatto (makanan kedua). Untuk antipasto biasanya adalah appetizer seperti cozze (kerang besar), involtini primavera (sejenis spring rolls atau lumpia kalau di rumah makan Cina) atau makanan makanan kecil pembuka lainnya.
Untuk primo piatto biasanya mereka memesan makanan sejenis pasta, risotto atau lasagna. Pada umumnya jenis makanan untuk primo piatto ini biasanya yang mengadung karbohidrat. Untuk Spaghetti banyak ragamnya seperti spaghetti alle vongole (spaghetti dengan kerang) atau spaghetti frutti di mare (spagheti sea food), spaghetti funghi porcini (spaghetti dengan jamur porcini) dan spaghetti mare monti (spaghetti laut dan gunung-- bahan bahan perpaduan antara hasil gunung seperti jamur dan sea food).
Untuk secondo piatto, biasanya ditawarkan di ristorante ristorante seperti bistik, vitella (sapi muda) atau manzo (sapi dewasa), ikan seperti spigola, oratta atau salmone atau fritura mista (udang, ikan dan cumi cumi).
Pada umumnya meskipun harga menu di tiap tiap restoran berbeda beda, tergantung, kelas dan lokasinya. Untuk primo piatto harga berkisar Euro 4, sedangakan secondo berkisar diatas Euro 7, apalagi kalau daging dan ikan tergantung dari besar porsinya per gramnya.
Di Italia terdapat bermacam macam tempat makan, ada yang disebut dengan snack bar, tavola calda (hot table), ristorante dan tratoria (restoran dengan specialities).