Showing posts with label Windhoek. Show all posts
Showing posts with label Windhoek. Show all posts

Friday, June 14, 2013

Stan KBRI Windhoek Memperoleh Penghargaan Platinum pada Namibia Tourism Expo 2013



WINDHOEK - Pada 4 Juni 2013, suratkabar Republikein merilis stan peserta pameran terbaik NTE 2013. Kriteria penilaian stan terbaik, antara lain didasarkan pada keindahan dan tampilan stan, pelayanan dan interaksi dengan pengunjung, serta layanan informasi yang diberikan penjaga stan.

Penilaian dilakukan oleh para pengunjung melalui sms dengan tarif N$ 2, selama berlangsungnya pameran. Berbeda dengan cara penghitungan selama ini dilakukan, dimana seseorang dapat mengirimkan sms sebanyak mungkin untuk mendukung idolanya, pada pameran kali ini berapa pun sms yang dikirimkan dari satu nomor telpon, sms yang diterima tetap dihitung hanya satu.

Berdasarakan 774 sms yang masuk, stan KBRI Windhoek berhasil masuk dalam salah satu polling terfavorit memperoleh penghargaan tertinggi untuk kategori Platinum. Selain Platinum, penghargaan lainnya diberikan dalam kategori Gold dan Silver. Tahun sebelumnya (2012), stan KBRI Windhoek mendapat penghargaan Gold.

Selain KBRI Windhoek, stan lain yang mendapatkan penghargaan Platinum dari 417 peserta adalah Gondwana Collection Namibia, Taleni Africa, South African Airways, Kedutaan Besar Afrika Selatan di Namibia, Chivas Lounge dan Botswana Tourism.

Keberhasilan KBRI Windhoek memperoleh penghargaan Platinum dalam NTE 2013, diharapkan dapat berdampak positif pada upaya peningkatan arus wisatawan, baik dari Namibia maupun negara-negara disekitarnya.

Besarnya animo pengunjung pada stan KBRI Windhoek dan dukungan yang diberikan, menunjukkan bahwa masyarakat Namibia, khususnya mereka yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas, memiliki interest yang cukup besar atas bisnis spa yg belum banyak digeluti.

Ke depan, diharapkan keberhasilan ini dapat mempermudah masuknya produk-2 yang terkait industri spa ke pasar Namibia, meski belum cukup besar, namun dinilai cukup menjanjikan. Terlebih jika keinginan beberapa pemilik/pengelola lodge untuk membuka spa dapat direalisasi

Monday, May 13, 2013

Crazy Safari Ber-Game Drives di GocheGanas, Namibia


Meskipun ini bukan yang terbesar dan terwild, paling tidak dapat mengobati penasaran saya untuk menikmati Wildlife di sekitar Namibia. Berbekal dari inspirasi menonton film Carzy Safari atau The Gods Must Be Crazy inilah saya mencoba menguak landscape yang sama meskipun film berlokasi di Gurun Kalahari Botswana, tetangga Namibia, tetapi alam dan iklim tidak jauh berbeda untuk melakukan adventure di wildlife Afrika. Melakukan Game Driving di GocheGanas serasa menjadi Host untuk National Geography Channel atau Animal Planet ... Let's Check This Out!

Crazy Safari, sebenarnya cuma inget filmnya seh, sequelnya THE GODS MUST BE CRAZY, meskipun lokasinya di Gurun Kalahari, Botswana, but not that far from Windhoek about 30km to the south of Windhoek tetapi medan dan situasinya gak jauh beda, ada tempat yang bukanlah seperti National Park, tapi lebih menyuguhkan suatu atraksi ke alam, jadi terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan yang dikenal dengan sebutan GOCHEGANAS (diambil dari Bahasa Nama -- salah satu suku di Namibia). 

Di GocheGanas Private Nature Reserve & Wellness Village terdapat adventure yang dapat kita lakukan yaitu bicycling, swimming, nginep di cottage, lunch or dinner at the Restaurant dan yang paling menarik adalah game drive yang dilakukan dengan jeep sambil mengitari lokasi yang luasnya 6000 HA sambil menikamti pemandangan semi-dessert sambil mengintip beberapa binatang-binatang yang yang berkeliaran seperti Zebra, Jerapah, Badak, Oryx, Kudu, Warthoug dan masih banyak lagi.


CHILLOUTS PLACE :

Lodge GocheGanas yang terletak diatas bukit cukup membuat kita dapat rest and relax, dilengkapi dengan berbagai prasarana seperti swimming pool dan spa sambil menikmati alam yang terbentang luas dari atas bukit niscaya bakal mengurangi stress anda dari rutinitas. Meskipun panas tapi udara cukup sejuk.

THE RESTAURANT: 




Restaurant & Bar Fire Circle yang terletak di kompleks Lodge GocheGanas 
yang berada di puncak bukit dengan view yang indah

GOCHEGANAS LODGE 

Di Lodge ini kita bisa lihat view valley GocheGanas di bawah. Di Lodge ini lah tempat meeting point sebelum kita melakukan perjalanan Game Drive. Di Lodge ini juga terdapat banyak cottage yang cocok buat bulan madu atau selingkuh (hahahaha) dengan harga cukup lumayan drastis sekitar N$ 900 (Rp. 900.000) per orang. Juga terdapat Restaurant, Swimming Pool, Conference Room. Lodge ini dikelola oleh Swasta. Untuk ikutan Game Drive harga N$350 (Rp. 350.000) plus tips untuk jeep drivernya (k.l N$ 50 atau Rp. 50.000) lengkap dengan minuman dan snack selama perjalanan.Dengan kursi terbatas (sekitar 11 orang) dan dipandu oleh orang setempat keturunan Angola yang bisa berbahasa Inggrs, Portugis dan Jerman, entourage Game Drive di GocheGanas ini menyusuri private nature reserve seluas 6000HA dan perjalanan dengan jeep sekitar 3 jam. Boss nya duduk paling depan...asyiiikkkk keren kannnn??????


LET'S GO SAFARI GO GO ! 
Meskipun panas dan terik menyengat, tapi udara tetap segar, Game Drive menyenangkan kalau dilakukan apalagi sambil melihat lihat macam-macam binatang. Boss tetep duduk dimuka disebelahnya Mr. Immnuel, the driver inclusive guide of the private nature reserve in GocheGanas dengan secara cermat sanggup melihat sekelebat binatang-binatang yang hidup di natur reserve ini dengan seksama, padahal samar sama semak-semak di sana.


LODGE GOCHEGANAS, tampak dari jauh ketika melakukan perjalanan sekitar 3 jam menyelusuri reservasi alam ini. Bukit semi-dessert yang tandus dan hanya terdiri dari semak-semak (bush) ternyata menyimpan kekayaan alam dengan hidupnya beberapa binatang seperti Rhino (badak), jerapah, springbok, warthoug, kudu, oryx, impala dll

WARTHOUG : 
ngok ngok ngok ........ehhh ada yang lewat.... ini adalah Warthoug yang lagi nyeberang, Warthoug ini adalah sejenis babi hutan, banyak terdapat disini, 
kalau Warteg ya enak buat makan...... LOL!

WATERBOK : 
Kenalkan ini adalah Waterbok, jenis dari antelope (kijang) yang berdaun telinga lebar dan paling tidak mau jauh dari air, makanya disebut dengan Waterbok. Ini adalah salah satu binatang yang terdapat di GocheGanas Private Nature Reserve. kalau mau jujur yang di Indonesia dikenal dengan kijang/rusa ternyata memang banyak macemnya di reservasi alam ini dari Kudu, Oryx, Impala, dan bok bok lainnya, cuma yang ini karakteristiknya tidak mau jauh dari air.


ZEBRA : 
binatang belang-belang ini sedang merumput, agak susah memang kalau mau mendekat ke binatang-binatang itu, mereka masih malu-malu sama kita, ketika melihat binatang mesinnya pun harus dimatikan takut 
mereka lari tunggang langgang.

WILDEBEEST atau GNU : 
sejenis hewan bertanduk campuran antara antelope, cattle dan kambing (goat) yang hidup di Afrika.

THE EXOTICISM OF THE NATURAL AND WILDERNESS BEAUTY OF AFRICA

THE LANDSCAPE


THE VALLEY : 
inilah landscape GocheGanas lengkap dengan habitat binatang-binatang yang hidup di wilderness.


THE LOGGO: 
Logo GocheGanas dengan maskotnya Rhino (Badak), ini merupakan tempat reservasi alam dan wellness vilage yang dikelola oleh swasta, sekitar 30 km selatan Kota Windhoek ke arah Rehoboth.


BEFORE SUNSET : 
Sebelum matahari terbenam kita berhenti sejenak setelah melihat Rhino (Badak) di suatu padang lengkap dengan berbagai minuman dari whisky cola, gin tonic, water dan juga snack ringan lainnya kita berhenti untuk foto-foto sambil melihat Badak. Sayang rupanya binatang-binatang disini look so shy, jadi begitu kita datang mereka kabur.......

Thursday, May 9, 2013

Windhoek Lager : Cermin Budaya Orang Jerman di Windhoek

Ini dia kebiasaan orang Jerman yang masih sisa di Windhoek, minum bir -- Jadi jangan heran kalau di Windhoek banyak orang kulit putih karena banyak keturunan orang Jerman tinggal disini sejak tahun 1840. 

Meskipun jumlahnya cuma 7% dari populasi penduduk Namibia, tetapi pada umumnya orang-orang Jerman masih menguasai kelas majikan dan bisnis-bisnis utama di Kota Windhoek dan banyak mempekerjakan orang setempat. Bagunan-bangunan dan rumah-rumah di Windhoek yang berbentuk "kotak-kotak" mengingatkan saya dengan bentuk-bentuk bangunan dan rumah-rumah di Jerman. 

Di Windhoek juga banyak terdapat banyak peninggalan Jerman sejak jaman kolonialisasi. Beberapa nama jalan juga masih terdapat strasse dan weg seperti di Belanda. Begitu pula dengan nama-nama tempat seperti Klein Windhoek, Suiderhof, Kleine Kuppe, Ludwigsdorf, Auasblik dll.

Namun sayang karena pernah dibawah kekuasaan Afrika Selatan (ZA), Pengaruh Bahasa Jerman sedikit memudar dan dikalahkan dengan Bahasa Inggris dan Afrikaans.

Saturday, May 4, 2013

Welcome to Namibia

Akhirnya tiba juga ke Windhoek, ibukota Namibia, kota yang berpenduduk cuma sekitar 330.000 jiwa. Dibandingkan dengan Jakarta sangat jauh keadaannya. Pertama kali mendarat di Hoseo Kutako sebetulnya agak-agak miris, maklum dari udara cuma terlihat lembah dan bukit-bukit yang gundul yang tidak jelas mau dibawa terbang dan mendarat ke mana saya ini.

Sejak dari Bangkok ke Johannesburg (short: Joburg) sudah kelihatan kalau mayoritas yang naik pesawat Thai Airways itu mayoritas kulit putih. Saya kurang yakin apakah karena yang mampu bepergian itu cuma orang-orang kulit putih atau karena memang mereka lagi melancong ke Asia Tenggara, apalagi Bangkok sebagai tujuan wisata utama.

Berangkat dari Suvarnabhumi tengah malam atau sekitar jam 01.30 dini hari membuat nunggu departure pesawat cukup lama, namun perjalanan berkisar 10 jam lebih akhirnya nyampai ke Joburg sekitar jam 07.30 pagi atau mundur 5 jam dari waktu keberangkatan di Bangkok. Transit 2 jam akhirnya saya dapat melanjutkan perjalanan ke Windhoek.

Orang item Afrika Selatan bilang Windhoek dengan logat yang kental /WINDHUK/ mereka bilang itu adalah Bahasa Afrikaans, maklum biasanya kita lebih suka menyebut sok ke Inggris-Inggrisan dengan /wind-hoke/ saya gemas karena dulu sebelum berangkat suka di olok-olok sama teman-teman di kantor saya bekerja dulu dengan menyebut /WINDHUK/ seperti kata /mblendhuk/ saja dalam bahasa Jawa yang kadang membuat saya seperti dicemoohkon. Well, hasilnya ternyata teman saya tidak salah, memang benar nyebutnya begitu.

Dalam perjalanan dari Joburg ke Windhoek cukup ramai, pesawat rasanya sempit karena orang-orangnya serasa besar-besar dan mayoritas tetap kulit putih, maklum saya membaca bahwa orang-orang di Windhoek itu banyak juga kulit putih yang mendominasi bisnis di Windhoek, dan meraka orang-orang keturunan Jerman, karena jaman kolonoial dulu, Namibia merupakan jajahan Jerman sebelum diambil alih oleh Inggris dengan Afrika Selatan.



Dalam perjalanan sebetulnya tidak lapar lapar amat, karena menjelang pagi sampai di Joburg dari Bangkok selama dua kali sudah mendapat makan, tapi penerbangan pendek selama 2 jam dari Joburg ke Windhoek dengan menggunakan South African Airways (SA) masih saja mendapat makan. Pramugari tidak hanya berkulit hitam tetapi juga putih. Mengingatkan jaman Aphartheid di Afrika Selatan karena ada gap yang cukup tinggi waktu itu antara orang-orang putih dan item. Kulit putih banyak yang merupakan keturunan orang-orang Belanda yang bercokol di Semenanjung Harapan (Cape of Good Hope) dikenal juga dengan sebutuan orang-orang Boer dan mereka pada umumnya berkulit kemerah-merahan. Penduduk asli tentu saja kulit hitam namun juga terdapat beberapa komunitas yang disebut dengan Cape Malay mengingat jaman penjajahan Belanda di Indonesia (dulu dikenal dengan East Indies) banyak memaksa bangsa kita untuk dibawa dengan kapan VOC menjadi budak dan hingga sekarang keturunan-keturunannya masih bercokol sebagian di Afrika Selatan menjadi Cape Malay, sebutan orang-orang keturunan Melayu (maksudnya orang-orang Indonesia seperti dari Bugis, Jawa dan lain-lain yang beragama Islam) bercokol di Semenanjung Harapan (Cape of Good Hope). Disamping dari tanah Melayu (East Indies) juga terdapat bangsa-bangsa lain seperti India, Madagaskar dan beberapa bangsa lainnya selain dibawa orang Inggris juga orang-orang Portugis.



Well, kembali ke persoalan penerbangan, dengan selamat setelah kurang lebih 2 jam akhirnya mendarat juga ke Hoseo Kutako, nama Bandara Internasional di Windhoek. Bandara cukup kecil, sama dengan O.R tambo, nama Bandara Internasional di Joburg, bandara ini juga tidak dilengkapi dengan thrunk atau belalai sewaktu boarding dan landingnya. Bahkan untuk transit saja di O.R. Tambo International Airport saja masih perlu untuk meminta visa transit meskipun memakan waktu proses 203 hari. Di Airport  Kecil memang airport di Windhoek, namun keadaannya lebih bagus aslinya daripada yang saya lihat di google.

Setelah mengurus bagasi dan imigrasi, tibalah akhirnya berangkat menuju ke Windhoek, menurut teman0teman dari KBRI yang menjemput sekitar 45 km. Luar biasa saya pikir, selama ini kita selalu mendiskreditkan benua hitam Afrika. Setap ketemu sama teman-teman dan saya utarakan bahwa saya akan berangkat tugas ke Windhoek, mereka tidak tahu dimana itu, kemudian saya menjawab Namibia, Namibia diman itu tanyateman-teman saya, akhirnya begitu menyebut nama AFRIKA giliran mereka pesimis dan terkesan why should be in Africa? Mereka pikir Afrika itu identik dengan:
1. Berkulit hitam
2. Hutan Belantara karena banyak binatang-binatang Buas
3. Keleleran dan kelaparan kaya orang Ethiopia
4. Gurun pasir yang luas
5. Keterbelakangan

Awalnya saya memang pesimis, kenapa saya harus ke Windhoek yang nota bene adalah di wilayah benua hitam? agak pesimis memang. Seornag teman mendiskripsikan bahwa tempat itu tidaklah seburuk yang dipikirkan orang-orang kebanyakan. Teman saya bilang bahwa tempatnya adalah blue sky yang terus terang saya sangat merindukannya karena susah bagi saya untuk menemukan blue sky apalagi di Jakarta yang kotanya sangat berpolusi. Teman saya juga mendiskripsikan bahwa selain itu juga berudara bersih, bagus buat terapi kesehatan saya yang terus terang sudah mulai mengganggu.

Begitulah akhirnya saya melihat dengan seksama di internet, mbah google, gambar-gambar tentang kota Windhoek maupun video-video. Aklhirnya saya berkesimpulan bahwa Namibia merupakan salah satu tantangan buat saya. Saya sudah pernah melanglang buana dari Asia Tenggara, Eropa Barat dna Tengah, Amerika Utara, kapan lagi ke Afrika mumpung ada kesempatan. Biarah Italia dengan segala keindahan alam, kelezatan makanannya, kopinya dan shoppingnya sangan dominan, saya berpikir tentang lagunya Shakirah yang menyebutkan Waka Waka it's time for Africa.



Berangkatlah akhirnya dari Airport menuju ke kota Windhoek, sepeti yang dijelaskan rekan dari KBRI kalau letak bandara internasional itu 45 km dari pusat kota. Wah jauh, tapi keadaan jauh berbeda dengan Jakarta. Meskipun dekat tapi naudzubillah mindalik Jakarta itu macet, Sabtu aja macet kadang dibikin stress kalau memikirnya brengseknya kemacetan di Jakarta yang kadang untuk pergi/pulang dari Jakarta ke Serpong yang jaraknya naya sekitar 24-28 km saja memerlukan waktu 2 jam kadang lebih apalagi kalau hujan dan ada demo.

Jalanan dari airport ke Windhoek, sangat mulus dan rapi. Iri saya, berpikir bahwa Jakarta adalah sangat sophisticated, ternyata yang saya lihat jalan B6 ini sangat mulus dan rapi. Terlebih-lebih lagi medan yang saya lewati sangat fantastis. Meskipun gunungnya gundul (sorry maaf saya kalau nyebut seperti kalau kepala sehabis dicukur terus tumbuh) atau mirip rambut orang-orang Afrika yang tumbuh spot by spot.



Memang dengan penduduk yang hanya 330.000 jiwa saya berpikir Kota Kudus aja penduudknya 500.000 jiwa, wah pasti sepi lah. Memang sepi seh jalanan, tapi pemandangan sangat menantang, karena memang landscape yang berbeda dengan Indonesia. Apalagi ada 5 macam ketertarikan mengenai landscape di Namibia, yang pertama adalah dessert (gurun kalahari), semi dessert, sand dunes    ( gunung pasir warna emas di pesisir Coastal Atlantic, Savannnah dan Grand Canyon. Koon Grand Canyon di Namibia ini adalah terbesar kedua setelah Amerika Serikat.





Tanah yang gundul dan gersang di Afrika ini menyebabkan udara di Namibia meskipun dibilang musim diningin karena tidak ada awan yang menggantung dan cuaca cukup cerah menyebabkan panas dengan temperatur yang cukup tinggi (sekitar 27-33 derajat Celcius), sedangkan kalau malam mendadak drop hingga 6-8 derajat Celcius). Saya heran cuma anehnya rumah-rumah disini beratap pendek bahkan di daerah kumuh seperti Katutura mereka cuma beratapkan seng.

MapLoco


Visitor Map